Data penjualan kuartal pertama Mercedes-Benz mengungkapkan lanskap yang kompleks dan terfragmentasi. Meskipun produsen mobil tersebut melaporkan adanya pertumbuhan signifikan di segmen barang mewah dan listrik, gambaran keseluruhannya dikaburkan oleh metode pelaporan yang tidak konsisten dan penurunan tajam di pasar utama seperti Tiongkok.
Pasar AS: Pertumbuhan di Tengah Kesenjangan Data
Di Amerika Serikat, penjualan ritel mobil penumpang mengalami penurunan 3%, dengan total sekitar 70.000 unit. Namun, menganalisis hasil ini menjadi semakin sulit bagi para pengamat. Mercedes tidak lagi memberikan perincian terperinci berdasarkan model tertentu, dan memilih untuk mengelompokkan kendaraan bersama-sama. Pergeseran ini memungkinkan perusahaan untuk menyoroti segmen yang berkinerja tinggi sambil menutupi segmen yang berkinerja buruk.
Meskipun terjadi penurunan secara keseluruhan, beberapa model mewah tertentu menunjukkan ketahanan yang luar biasa:
– Maybach: Naik 22%
– SL: Naik 47%
– Kelas G: Naik 16%
– GLE & GLC: Naik masing-masing 19% dan 17%.
Meskipun angka-angka ini menunjukkan tingginya minat terhadap model-model andalan kelas atas, kurangnya transparansi juga meluas ke jajaran kendaraan listrik (EV). Perusahaan secara khusus tidak menyebutkan seri EQE atau EQS dalam laporannya. Selain itu, meskipun Mercedes mencatat adanya peningkatan minat terhadap CLA yang akan datang, mereka tidak memberikan data spesifik untuk mendukung klaim ini, sehingga menunjukkan bahwa masalah ketersediaan—memprioritaskan Eropa dibandingkan AS—mungkin telah menghambat penjualan awal.
Tren Global: Kemerosotan Tiongkok dan Pivot EV
Dalam skala global, kinerjanya juga tidak merata. Total penjualan mobil penumpang turun 6% menjadi sekitar 419.400 unit. Penurunan ini sebagian besar didorong oleh kontraksi besar-besaran di pasar Tiongkok, di mana penjualan anjlok sebesar 27% menjadi sekitar 111.600 unit.
Penurunan yang terjadi di Tiongkok merupakan metrik penting bagi industri ini; sebagai salah satu pasar barang mewah terbesar di dunia, penurunan dua digit di sana menandakan hambatan yang signifikan bagi produsen mobil premium Jerman, yang mungkin disebabkan oleh pergeseran preferensi konsumen atau meningkatnya persaingan lokal.
Sebaliknya, transisi listrik menunjukkan tanda-tanda momentum:
– Penjualan EV global naik 9% (sekitar 44.300 unit).
– Mercedes mengklaim GLC listrik baru telah menghasilkan lebih banyak pesanan dalam tiga bulan dibandingkan kendaraan listrik lainnya dalam sejarah merek tersebut.
– Buku pesanan beberapa model listrik (CLA, GLB, GLC) dilaporkan penuh hingga paruh kedua tahun ini.
Perbedaan dan Penjualan Van
Kebingungan yang menonjol timbul dari kesenjangan antara pelaporan regional dan global. Sementara penjualan ritel di AS dilaporkan sebesar 70.000 unit, rilis global menyebutkan penjualan di Amerika naik 20% menjadi 81.100 unit. Ketidakkonsistenan ini—kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan antara “penjualan ritel” dan “angka total awal”—membuat sulit untuk menetapkan dasar pasti mengenai kinerja merek tersebut di AS.
Segmen komersial juga menghadapi tantangan, dengan penjualan van global turun 3% menjadi sekitar 80.300 unit. Meskipun penjualan van kendaraan listrik melonjak sebesar 29%, total volumenya masih tetap rendah yaitu sebesar 6.100 unit, yang menunjukkan bahwa transisi ke armada komersial listrik masih dalam tahap awal.
Intinya: Mercedes-Benz berhasil memanfaatkan segmen SUV ultra-mewah dan kelas atas untuk mengimbangi penurunan pasar yang lebih luas, namun merek tersebut menghadapi tantangan besar dalam menstabilkan kehadirannya di Tiongkok dan menyediakan data yang jelas dan konsisten di seluruh jajaran produk listriknya yang terdiversifikasi.























